Refleksi HUT PI ke-89, Dance Sangkek Ungkap Sejarah Panjang Injil di Bumi A3

Manokwari, TopbNews.com – Tokoh intelektual Maybrat, Dance Sangkek, menceritakan sejarah panjang Bumi A3 (Aitinyo–Ayamaru –Aifat) sebagai bagian dari refleksi rohani dan sejarah dalam rangka menyambut peringatan Hari Ulang Tahun Pekabaran Injil (HUT PI) ke-89, yang akan diperingati pada 17 Januari 2026 di Aitinyo, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Dalam penuturannya, Dance Sangkek menegaskan bahwa masuknya Injil ke Bumi A3 tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan peradaban, pendidikan, dan awal pemerintahan di Papua Barat.

Injil hadir sebagai terang yang mengubah pola hidup masyarakat dari keterikatan tradisi kegelapan, penyembahan berhala, dan konflik antarsuku menuju kehidupan yang berpusat pada kasih, persaudaraan, dan tujuan ilahi sebagai ciptaan Tuhan.

Sangkek menjelaskan bahwa sebelum Injil masuk, masyarakat hidup secara tertutup dan lokal, namun melalui Injil terjadi transformasi karakter dan peradaban. Injil menjadi alat pembebasan dari kebodohan dan keterbelakangan, sekaligus membuka jalan bagi pendidikan dan pemerintahan modern.

“Sejarah masuknya Injil di A3 berjalan seiring dengan masuknya pemerintahan melalui pendekatan sosial budaya dan spiritual. Jalur laut dan sungai dari wilayah Maluku, Tidore, dan Ternate menjadi pintu masuk utama menuju pesisir hingga pedalaman dan pegunungan Papua”, jelas Sangkek.

Lanjutnya, dalam proses itu kepemimpinan tradisional dilegitimasi melalui pemberian gelar seperti kapitan dan mayor, yang kemudian menjadi bagian dari struktur sosial masyarakat.

“Sekolah Injil, pelayanan gereja, dan pemerintahan berkembang bersamaan. Inilah fondasi peradaban Papua yang kita nikmati hari ini”, ungkapnya.

Ia menekankan bahwa masyarakat A3 pada masa itu tidak menolak Injil, melainkan menerima dan bahkan berinisiatif mendatangkan para hamba Tuhan, sebuah respons iman yang membawa berkat hingga generasi sekarang.

Menurutnya, sejarah ini perlu terus diceritakan kepada generasi muda agar peringatan HUT PI ke-89 tidak dimaknai sebatas kegiatan seremonial, melainkan menjadi momentum refleksi, pertobatan, dan rekonsiliasi.

Ia mengingatkan agar sejarah Injil tidak dipelintir untuk kepentingan politik atau ego pribadi, melainkan dijadikan dasar untuk membangun masa depan yang takut akan Tuhan.

Peringatan HUT PI ke-89 di Bumi A3 diharapkan menjadi momentum syukur bersama atas karya Tuhan yang telah menghadirkan Injil sebagai dasar iman, peradaban, dan persatuan orang Papua. (*)

Penulis : Rian Lahindah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!