
Numfor, TopbNews.com – Di bawah langit Pulau Numfor yang tenang, lonceng iman berdentang lembut dari Gereja Bait-el Yenburwo.
Kamis, 25 Desember 2025, jemaat datang dengan wajah penuh harap, mengenakan busana terbaik, membawa hati yang rindu akan damai.
Natal kembali dirayakan, bukan sekadar sebagai tradisi, tetapi sebagai perjumpaan iman dengan Sang Juru Selamat.
Ibadah Natal dipimpin oleh Guru Jemaat Delila Rumbrawer, yang dengan suara teduh mengantar jemaat memasuki peristiwa agung Kelahiran Yesus Kristus.
Firman Tuhan dibacakan dari Kitab Lukas pasal 2 ayat 8 hingga 20, dengan tema pembacaan “Gembala-Gembala”, kisah sederhana namun sarat makna tentang mereka yang pertama kali menerima kabar kelahiran Sang Penebus.
Dalam suasana ibadah yang khidmat, jemaat diajak kembali ke malam sunyi di Betlehem, saat para gembala mendengar suara malaikat yang membawa berita besar: Juruselamat Telah Lahir.
Kisah itu terasa hidup dan dekat, seakan para gembala hadir di tengah jemaat, membawa pesan yang sama, bahwa keselamatan datang bukan hanya bagi orang besar, tetapi bagi semua yang mau membuka hati.
Guru Jemaat Delila Rumbrawer dalam renungannya menekankan bahwa Natal adalah bukti kasih Allah yang nyata.
Kelahiran Yesus Kristus ke dunia menjadi tanda bahwa Tuhan hadir di tengah kesederhanaan, di tengah pergumulan manusia, untuk membawa terang dan pengharapan baru.
“Para gembala mengajarkan kita tentang iman yang sederhana, ketaatan tanpa ragu, dan keberanian untuk memberitakan kabar baik. Natal mengundang kita semua untuk menjadi pembawa damai, seperti mereka”, tuturnya.
Puji-pujian Natal yang dilantunkan jemaat mengalir lembut, menyatu dengan doa dan rasa syukur.
Di Gereja Bait-el Yenburwo, Natal bukan hanya dirayakan dengan kata-kata, tetapi dengan kebersamaan, senyum, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Perayaan Natal ini menjadi pengingat bahwa di tengah dunia yang terus berubah, pesan dari palungan Betlehem tetap sama: Allah Hadir, Kasih-Nya Nyata, dan damai sejahtera tersedia bagi semua orang yang percaya.
Dari Kampung Yenburwo, kabar sukacita itu kembali disuarakan, pelan, sederhana, namun penuh makna bagi dunia. (*)
Penulis: Marthina Marisan