
Manokwari, TopbNews.com – Persiapan menuju gelaran Novemberock 2025 kini telah mencapai sekitar 50 persen. Beberapa peserta band yang akan mengikuti acara tersebut tampak hadir dalam technical meeting di
Cafe Master Taman Ria, Kamis (31/10) malam.
Pian dari Gospel City menjelaskan bahwa gelaran tahun ini menghadirkan sekitar 12 penampil, termasuk kolaborasi lintas genre dan seni pertunjukan.
“Kita coba bersinergi dengan semua lini kesenian di Manokwari. Tujuannya agar para seniman lokal tumbuh bersama dan bisa dilirik oleh kota lain. Karena sekarang kota-kota besar seperti Jogja, Makassar, dan Bandung sudah punya festival rock tahunan. Kita juga ingin Novemberock jadi kebanggaan Papua Barat,” jelas Pian pasca technical meeting.
Menurutnya, setiap band akan mendapatkan waktu tampil sekitar 20 menit, dengan membawakan karya ciptaan sendiri.
Panitia juga mengundang beberapa kurator dari luar daerah seperti Makassar dan kota lain untuk memberikan penilaian sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas wilayah.
Untuk tahun ini, lokasi acara dipilih dengan pertimbangan optimalisasi produksi dan kenyamanan pengunjung, dengan estimasi jumlah penonton sekitar 750 orang.

Tiket akan mulai dijual pada 1 November 2025 melalui sistem bundling (paketan) atau pembelian tiket langsung disertai produk resmi seperti kaos, jaket, topi, dan korek edisi khusus “Blood of Two Decades”.
Penjualan tiket bisa didapatkan di Cafe Hastel Reremi, Café Kandera, dan Rock House Manokwari.
Sementara itu, Fachry Tura, selaku Pembina Rock House, menyampaikan bahwa tahun ini merupakan perayaan dua dekade Rock House yang mengusung tema “Blood of Two Decades”, menandai 20 tahun perjalanan komunitas musik rock tertua di Manokwari.
Rock House, yang berdiri sejak 2005, telah menjadi wadah berkumpul dan berkarya bagi musisi-musisi lokal Manokwari. Tahun ini, semangat kolaborasi menjadi kunci utama.
Selain band rock, akan tampil pula musisi hip-hop, reggae, keroncong, dan dangdut, serta pertunjukan tarian adat Arfak, yakni tarian tumbu tanah.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kita punya tanggung jawab untuk mengembangkan budaya dan tradisi yang ada di Manokwari. Rock bukan hanya tentang musik keras, tapi bagaimana napas rock bisa dikombinasikan dengan nilai-nilai lokal dan menjadi lebih humanis”, ujar Fachry.

“Kami ingin memperkaya panggung dengan warna musik yang beragam, sekaligus mengangkat budaya lokal. Ini mungkin pertama kalinya di Papua Barat ada kolaborasi antara band rock dengan saudara-saudara dari komunitas etnis tradisional”, lanjutnya.
Menutup pernyataannya, Fachry menegaskan bahwa semangat berkarya adalah bentuk tanggung jawab moral seniman terhadap tanah kelahiran.
“Berkarya itu tanggung jawab. Pemerintah boleh mendukung atau tidak, tapi seniman tetap harus berjalan dengan tulus. Itu jiwa Rock House”, tutupnya. (*)
Penulis : Rian Lahindah