PAMKA GPKAI Majelis Daerah Anggi Gelar Seminar Pemuda : Waspadai Pergaulan Buruk, Bangun Generasi Papua yang Berkarakter

Pegaf, TopbNews.com – Persekutuan Angkatan Muda Kristen Alkitab (PAMKA) Majelis Daerah Anggi, Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI), menggelar Seminar Pemuda Tahun 2025 dengan topik “Pergaulan Buruk yang Merusak Masa Depan Generasi Papua.”

Kegiatan yang berlangsung pada 15–28 September 2025 ini dilaksanakan dengan konsep kunjungan langsung ke enam jemaat PAMKA Majelis Daerah Anggi.

Dengan cara ini, panitia berharap pesan seminar dapat lebih dekat, menyentuh, dan relevan dengan kehidupan pemuda di setiap jemaat yang berada di wilayah pegunungan Arfak.

Setiap sesi disesuaikan dengan jadwal jemaat setempat, sehingga seluruh pemuda dapat berpartisipasi aktif.

Pola ini dipilih agar penyampaian materi benar-benar menjangkau lapisan pemuda di akar rumput, mengingat kondisi geografis Pegunungan Arfak yang cukup menantang.

Ketua PAMKA Majelis Daerah Anggi, Yuleks Ahoren, menjelaskan bahwa kunjungan ke setiap jemaat menjadi bagian penting dari pendekatan pastoral dan edukatif.

“Dengan mengunjungi setiap jemaat, kami bisa melihat langsung realitas hidup pemuda, sekaligus memberikan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Seminar ini tidak hanya memberi teori, tetapi juga menghadirkan diskusi, tanya jawab, dan refleksi bersama”, ujar Ahoren kepada TopbNews.com, Sabtu (27/9).

Dalam setiap kunjungan, pemateri menegaskan bahwa pemuda memiliki peran strategis sebagai pilar gereja dan bangsa.

Bahaya pergaulan bebas, minuman keras, narkoba, dan pengaruh negatif lingkungan sosial menjadi tantangan besar yang harus dihadapi bersama.

“Pemuda adalah ujung tombak pembangunan. Jika mereka salah bergaul, masa depan mereka bisa hancur, dan itu berdampak pada keluarga, gereja, bahkan bangsa. Karena itu, pemuda harus dipersiapkan dengan baik, agar kuat dalam iman dan unggul dalam kualitas sumber daya manusia”, tegas Ahoren.

Seminar ini juga menyoroti pentingnya peningkatan sumber daya manusia (SDM) sebagai modal utama pembangunan Papua.

Pemuda diajak untuk terus menempuh pendidikan, mengembangkan keterampilan, serta membangun pola pikir positif agar mampu bersaing di era global.

“Pembangunan tidak akan berjalan jika SDM kita lemah. Karena itu, pemuda Papua harus dibekali bukan hanya secara rohani, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan. Lewat kegiatan ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa masa depan Papua ada di tangan generasi mudanya”, tambah Ahoren.

Antusiasme tinggi terlihat dalam setiap kunjungan ke jemaat. Para pemuda mengikuti diskusi dengan semangat, bahkan banyak yang berbagi pengalaman tentang tantangan pergaulan di lingkungan mereka.

Seminar yang berlangsung hampir dua pekan ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda Papua yang berkarakter, tangguh, dan berdaya saing.

“Kami ingin pemuda bukan hanya berkata ‘tidak’ pada pergaulan buruk, tetapi juga berani berkata ‘ya’ pada pendidikan, kerja keras, dan hidup takut akan Tuhan”, tutup Ahoren. (*)

Penulis : Marthina Marisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!