
Manokwari, TopbNews.com – Puluhan massa yang mengatasnamakan perwakilan dari 164 aparat kampung di Kabupaten Manokwari, Senin (14/7) memalang pintu masuk Kantor Bupati Manokwari, Papua Barat.
Aksi tersebut dipicu oleh keterlambatan pembayaran gaji selama tujuh bulan yang belum mereka terima.
Salah satu perwakilan aparat kampung, Sius Muid yang juga menjabat Sekretaris Kampung Uuyehek, Distrik Prafi, merupakan perwakilan dari 16 kampung menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk tuntutan terhadap hak mereka yang belum dipenuhi.

“Kalau umat muslim puasa hanya satu bulan, tapi kami sudah puasa tujuh bulan tanpa gaji. Sementara kami punya tanggung jawab terhadap keluarga dan pendidikan anak-anak”, ujar Sius dengan nada pilu.
Ia menambahkan bahwa para aparat kampung telah berusaha menyampaikan aspirasi melalui kepala distrik, namun tidak mendapat kejelasan, sehingga diarahkan untuk langsung menemui Bupati Manokwari.
“Kami berharap agar honor kami segera dibayarkan. Kami bingung mau mengadu kemana lagi. Karena itu, kami ingin mendengar langsung penjelasan dari Bapak Bupati dan berharap realisasi bisa dilakukan bulan ini juga”, tegasnya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Bupati Manokwari Hermus Indou yang didampingi Wakil Bupati Mugiyono menyampaikan apresiasi atas jalannya aksi yang tertib dan damai.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan ini. Pemerintah daerah tidak berniat menunda, tetapi ada kendala pada alokasi Dana Khusus tahun lalu. Dana sebesar Rp10 miliar dari Dana Bagi Hasil (DBH) terserap untuk pembayaran ASN”, jelas Bupati.
Hermus menjelaskan bahwa tahun ini, pemerintah akan menyiapkan administrasi pembiayaan yang bersumber dari DBH dan Dana Otonomi Khusus (Otsus), dan memastikan bahwa sebelum akhir bulan ini, seluruh hak aparat kampung akan dibayarkan.

“Saya tegaskan tidak boleh lewat dari bulan ini. Dengan cara apa pun, kami akan upayakan agar gaji bapak/ibu bisa segera diterima. Mengenai teknisnya, pembayaran akan dilakukan dalam dua tahap”, tambahnya.
Usai mendengarkan penjelasan dari Bupati, massa akhirnya membuka palang dan membubarkan diri secara tertib. (*)
Penulis : Marthina Marisan