
Manokwari, TopbNews.com – Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947 dan Idul Fitri 1446 Hijriah pada Tahun 2025, diketahui akan di rayakan dalam kurun waktu yang sangat berdekatan.
Ketua PHDI Provinsi Papua Barat, Wayan Patiyasa mengimbau kepada seluruh masyarakat agar terus menjaga toleransi dan kamtibmas saat pelaksanaan dua hari raya besar tersebut, sehingga mampu menciptakan harmoni toleransi antar umat beragama.
“Mari kita tingkatkan toleransi antar umat beragama dimana ada dua acara besar keagamaan yang dilaksanakan pada waktu yang hampir bersamaan, oleh karena itu mari perkuat sinergi dan toleransi dengan menjaga kamtibmas di wilayah kabupaten Manokwari”, ujarnya kepada awak media di Manokwari, Senin (24/3).
Ia menjelaskan bahwa Hari Raya Nyepi merupakan momen untuk mengevaluasi diri bagi seluruh umat Hindu. Rangkaian persembahyangan akan digelar menyonu perayaan Nyepi.
Dikatakannya Persembahyangan yang dilakukan adalah sebagai bentuk untuk Pembersihan Bumi dan Alam Beserta Isinya. Menurutnya, hal yang negatif haruslah di buang, sehingga kedepannya banyak hal positif yang menaungi setiap umat.
Dijelaskan, sebelum memasuki Catur Brata Penyepian, terdapat empat tahapan yang harus dilakukan dalam introspeksi diri.
Salah satu kegiatan penting dalam rangkaian Nyepi adalah upacara Melasti, yang akan digelar pada 27 Maret 2025 di Pura Segara Maripi, Manokwari. Umat Hindu dari berbagai wilayah seperti Wasegi, SP3 Prafi, serta personel dari Polda dan Kodam akan berkumpul untuk bersembahyang bersama.
“Melasti memiliki makna membersihkan bumi pertiwi dan seluruh isinya dari hal-hal negatif. Kita akan menghanyutkan segala kotoran ke laut setelah memohon Tirta Suci dari Dewa Baruna. Sumber air, baik dari danau, sungai, maupun lainnya, bermuara ke laut yang diyakini sebagai sumber utama air suci”, jelas Wayan Patiyasa.
Kemudian, pada 28 Maret, akan dilaksanakan upacara Pecaruan di depan Pura Giri Buana, Jalan Brawijaya, sebagai bentuk penghormatan kepada roh-roh yang tidak kasat mata.
Di sore hari, sekitar pukul 17.00 WIT, umat Hindu akan menggelar pawai ogoh-ogoh dari Pura Giri Buana menuju Warung Wong Solo, lalu kembali ke Pura.
“Ogoh-ogoh melambangkan angkara murka yang suka mengganggu kehidupan manusia. Dengan arak-arakan ini, kita berupaya menetralisir energi negatif agar keesokan harinya ibadah Nyepi berjalan dengan khidmat”, tambahnya.
Puncak perayaan Nyepi jatuh pada 29 Maret, saat umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, mulai pukul 00.00 hingga pukul 06.00 pagi keesokan harinya. Selama periode ini, umat Hindu wajib menaati empat pantangan utama: Amati Geni (tidak menyalakan api atau penerangan), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Karya (tidak bekerja), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).
“Nyepi bertepatan dengan bulan gelap kesembilan atau Tilem Kesanga, momen spiritual yang diyakini sangat sakral. Setelah Nyepi, pada 30 Maret, umat Hindu akan kembali bersilaturahmi dengan keluarga, saudara, dan teman”, terang Wayan.
Ia berharap sebagai Ibu Kota Provinsi Papua Barat, masyarakat di Kabupaten Manokwari harus memberikan contoh kerukunan antar-umat beragama dengan mampu melaksanakan kegiatan keagamaan secara bersamaan dalam suasana harmonis.
“Mari Jaga kerukunan, saling toleransi, untuk menyambut hari kemenangan dengan penuh sukacita”, tutupnya. (*)
Penulis : Marthina Marisan