
Kota Jayapura, TopbNews.com – Pemerintah Provinsi Papua terus mendorong konsolidasi pendataan orang asli Papua (OAP) melalui dua wilayah adat yang ada di Provinsi Papua.
Diketahui, sebelumnya pemerintah Provinsi Papua telah mengawali kegiatan konsolidasi di wilayah adat Mamta beberapa waktu lalu (4 April 2024 di Kabupaten Jayapura) dan dilanjutkan saat ini di wilayah adat Saireri.
Kegiatan peningkatan kapasitas dan kerjasama pemerintah dan lembaga adat di wilayah adat Saireri Tahun 2024 dibuka secara resmi oleh Pj Gubernur Papua dan digelar di Biak, Kamis 17 Oktober 2024.
Pj Gubernur Papua dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Papua, Musa Isir mengatakan, kegiatan Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Adat dan Kerjasama Pemerintah dan Lembaga Adat di Wilayah Adat Saireri Tahun 2024 bertujuan untuk menjalin hubungan harmonis antara pemerintah daerah dan masyarakat adat.
Dia menyebut, pertemuan ini merupakan bentuk pengakuan, penghargaan dan penghormatan terhadap tradisi, budaya lokal dan masyarakat adat di wilayah adat Saireri.
“Peningkatan kerjasama ini adalah untuk menghormati tradisi budaya lokal, memperkuat hubungan dengan masyarakat adat, pengakuan otonomi daerah dan mendorong kerjasama dan kolaborasi,” katanya
Menurutnya, Kegiatan Sosialisasi dan Koordinasi ini sesuai dengan komitmen untuk menjaga keberlangsungan Masyarakat Adat yang dibuktikan dalam Pasal 18B ayat 2 (dua) Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa.
“Disitu disebutkan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bebernya.
Dalam sambutan yang dibacakan Musa Isir, Pj Gubernur Papua, Ramses Limbong berharap dengan dilaksanakannya kegiatan ini, dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam menjalin silatuhrahmi dan sinergisitas oleh Pemerintah Daerah dan Para Tokoh Adat, Tokoh Pemuda dan Tokoh Perempuan di Wilayah Adat Saireri.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung dan Adat, Max Olua mengatakan, konsolidasi dilaksanakan selama satu hari dengan tujuan untuk mengexplore kesatuan masyarakat adat yang ada di dua wilayah adat yakni Mamta dan Saireri.
“Hari ini kami laksanakan di wilayah adat Saireri, setelah itu kami akan melihat hasil dari konsolidasi ini melalui forum konsolidasi yang selanjutnya akan dikolaborasikan dengan fakta dan data terkait identitas, nama dan jumlah serta yang lainnya untuk lebih diidentifikasi lagi,” katanya.

Dia menambahkan, pihaknya telah mendengar isu-isu terkait hal tersebut namun tetap harus mendengar secara resmi dalam forum yang digelar di kabupaten biak ini.
“Forum ini juga sekaligus sebagai media untuk kami mendengar, melihat, menerima, menyimpan dan kemudian mengelolanya dalam rumusan kedepan,” ujarnya.
Dia menyebut, langkah-langkah yang diambil akan menjadi acuan apakah langkah seperti ini tetap harus dilakukan kembali atau seperti apa.
“Kita harus mencapai hal yang sempurna, tidak mungkin kita lakukan hanya satu dua kali saja. Pasalnya untuk menuju kepada sebuah produk yang baik, bersahaja dan bermanfaat bagi masyarakat adat yang ada kita akan terus buka forum seperti ini,” imbuhnya.
Dirinya berharap kegiatan Ini terus dilaksanakan dan harus ditata dengan baik untuk menuju kepada sebuah mekanisme yang berlaku dalam pemerintahan dengan melibatkan steakholder terkait yang berkompeten dengan isu-isu adat.
Kegiatan peningkatan kapasitas dan kerjasama pemerintah dan lembaga adat di wilayah adat Saireri diikuti oleh 4 wilayah adat yakni biak, Supiori, Yapen dan Waropen. (*)
Penulis : NatYo