Dikeroyok di Lingkungan Sekolah, Orang Tua Korban Minta Perlindungan Siswa Diperketat

Manokwari, TopbNews.com — Kasus kekerasan antar siswa di SMA Taruna Kasuari, Papua Barat, menuai keprihatinan dari para orang tua. Salah satu orang tua korban, Desi Parera, mengaku sangat menyayangkan insiden yang menimpa anaknya.

mostbet

Desi menuturkan, sebagai orang tua, dirinya mempercayakan penuh pendidikan anaknya kepada pihak sekolah dengan harapan lingkungan belajar yang aman dan kondusif.

“Kami sebagai orang tua sangat menyayangkan kejadian ini. Kami memasukkan anak ke sekolah dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan apa pun. Tapi justru di sekolah terjadi hal seperti ini hingga anak kami mengalami memar”, ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, peristiwa tersebut diketahui olehnya sekitar pukul 20.30 WIT, meski kejadian diduga telah terjadi sejak pukul 19.00 WIT.

Informasi awal diperoleh dari grup komunikasi orang tua siswa yang menyebutkan adanya korban pemukulan.

“Saat kami tahu, kami langsung mencari ke sekolah dan rumah sakit karena ada informasi korban dibawa ke sana. Kami sempat cek satu per satu, tapi tidak menemukan anak kami. Ternyata dia sudah pulang ke rumah dalam kondisi luka”, jelasnya.

Menurut Desi, anaknya mengalami pemukulan di bagian wajah, perut, dan belakang tubuh.

“Di pipi dan bagian belakang tubuhnya bengkak. Tadi malam bahkan lebih parah. Dari keterangan anak, dia dipukul beramai-ramai dalam kondisi gelap”, ungkapnya.

Lebih lanjut, Desi menegaskan bahwa SMA Taruna Kasuari dikenal sebagai sekolah unggulan yang sangat selektif terhadap penerimaan siswa.

Oleh karena itu, ia berharap pihak sekolah dapat lebih serius dalam memperbaiki sistem pengawasan dan manajemen keamanan.

“Sekolah ini sekolah unggulan, masuknya juga tidak mudah. Kami berharap manajemen dan pengawasan diperbaiki. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi”, tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat mendidik, bukan ruang terjadinya kekerasan yang berpotensi membahayakan nyawa siswa.

“Sekolah itu untuk mendidik, bukan membuat anak-anak jadi korban kekerasan. Kalau tidak ditangani serius, ini bisa berujung fatal”, katanya.

Desi berharap pihak sekolah, dinas pendidikan, serta seluruh elemen terkait dapat mengambil langkah konkret untuk meningkatkan keamanan, terlebih mengingat sekolah tersebut memiliki sistem pendidikan semi-militer.

“Kami minta semua pihak, baik sekolah maupun pemerintah, benar-benar memperhatikan keselamatan anak-anak ke depan”, pungkasnya. (*)

Penulis : Rian Lahindah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Hati-hati menyalin tanpa izin!