
Manokwari, TopbNews- Keberadaan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tidak bisa dilepaskan dari Indonesia. Sejak didirikan 76 tahun silam, HMI sudah berperan dalam perjuangan maupun mengawal Bangsa Indonesia. Sehingga konsistensi para kader HMI dalam mengawal dan mempertahankan Indonesia, tidak perlu diragukan.
“HMI dan Indonesia sudah selesai. Tidak ada yang perlu dibahas lagi soal ke-Indonesia para kader HMI. Baik kader dan alumni, sudah berkomitmen menjaga Indonesia,” tegas Alumni HMI di Tanah Papua, Thaha Al Hamid dalam diskusi Refleksi Dies Natalis 76 Tahun HMI, Minggu (5/2).
Diskusi yang digelar secara online oleh Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Papua Barat ini diikuti para kader dan alumni di Tanah Papua.
Dalam diskusi bertajuk, “76 Tahun HMI: Merawat Indonesia, menjaga peradaban” itu Thaha juga mereflesikan kiprah kader dan alumni HMI di Tanah Papua. Menurut dia, sejak lama para kader HMI telah hadir dan berkiprah dalam pembangunan di Tanah Papua.
“HMI tidak kekurangan kader. Bahkan terlalu banyak. Saat ini, setelah Papua berkembang secara administrasi, maka tantangan yang akan dihadapi juga makin besar. Wilayah kerja dan basis untuk kita berkarya akan semakin luas. Sehingga kita juga harus berpikir bagaimana mendistribusikan kader agar bisa bisa memberi karya bagi daerah ini,” pesan Thaha.
Pendiri Majelis Muslim Papua (MMP) ini juga meminta seluruh Alumni HMI segera bersiap menyongsong tahun politik 2024 mendatang. Menurut dia, untuk lebih berperan dalam pembangunan, kader-kader terbaik HMI harus didorong berada di basis-basis kekuasaan. “Kita harus mendistribusikan kader-kader kita. Tapi sesama kader, harus juga saling memperkuat,” ujar dia.
Seperti diketahui, HMI didirikan pada 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane. Dalam perjalanannya, organisasi mahasiswa tertua ini mampu menjelma menjadi kekuatan perekat bangsa. Pada Dies Natalis ke-76 HMI mengambil tema; “Khidmat HMI untuk Masa Depan Peradaban”. (*)
Penulis: Sidarman