
Sorong, TobNew.com – Untuk pertama kali atau Perdana resmi digelar Jambore Masyarakat Adat Wilayah Papua Barat Daya 2025 dengan mengusung tema “Dari Adat Kita Menata, Dengan Iman Kita Melangkah, Bersama Pemerintah Kita Membangun”.
Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi masyarakat adat untuk menguatkan identitas, memperkokoh persatuan, dan mendorong kemitraan erat dengan pemerintah dalam pembangunan daerah.
Ketua Panitia Penyelenggara, Franky Umpain, menyampaikan perubahan zaman dan percepatan pembangunan nasional menghadirkan tantangan serius bagi masyarakat adat, mulai dari menyempitnya ruang hidup, tergesernya nilai budaya, hingga melemahnya posisi tawar dalam pengambilan kebijakan.
“Jambore ini adalah ruang perjuangan kultural, spiritual, dan politik untuk merajut kembali tenunan kebangsaan yang berkeadilan,” sebut Franky di Gedung Hotel Rylich Panorama Kota Sorong, Provinsi Papua Barat Daya, Senin (11 Agustus 2025).

Kegiatan akan berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 11–12 Juli 2025 diikuti 80 kepala suku se-Papua Barat Daya, 24 perwakilan dari berbagai daerah di Nusantara, serta perwakilan dari 11 universitas, 8 SMK, 15 SMP, dan 13 SD. Selain itu hadir pelaku UMKM asli Papua, dua panti asuhan, dua sanggar seni tari, dan perwakilan seniman OAP.
Agenda utama meliputi Dialog Adat dan Kebangsaan dengan topik “Adat sebagai Akar Pembangunan Tanah Papua”, pertemuan bersama Forkopimda dan pemuda Papua, bimbingan sosial bagi yayasan, komunitas seni, dan UMKM, serta Pameran Bersatu Indonesia yang mengangkat tema Generasi Emas Ekonomi Mandiri & Kampung Terpadu.
Jambore 2025 menghasilkan Piagam Sorong, sebuah dokumen rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan pusat, serta meneguhkan kemitraan masyarakat adat dengan pemerintah.
Kesadaran generasi muda terhadap nilai-nilai adat meningkat, produk UMKM asli Papua terpromosikan secara luas, dan peran adat sebagai pilar pembangunan semakin kokoh.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, dalam sambutan menegaskan adat adalah fondasi kehidupan, iman adalah penopang moral, dan pemerintah adalah mitra strategis untuk kemajuan.
“Kalau kita ibarat benang, mungkin warnanya berbeda. Tetapi jika terjalin dalam satu tenunan, jadilah kain yang indah dan kuat. Itulah tenun kebangsaan kita,” ujar Gubernur.
Beliau juga mengingatkan masyarakat adat untuk terus menjaga harmoni sosial, melestarikan lingkungan, dan menjadi penjaga nilai kebangsaan.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya berkomitmen memfasilitasi dan melibatkan masyarakat adat dalam perumusan kebijakan publik, serta menjadikan adat mitra strategis pembangunan.
Melalui jambore ini, diharapkan terwujud Papua Barat Daya yang damai, inklusif, adil, dan sejahtera.
“Mari kita rajut nyaman tenun kebangsaan, agar Papua Barat Daya menjadi rumah yang aman dan membanggakan bagi semua anak negeri,” tutup Gubernur Elisa Kambu.
Penulis : Marthina Marisan