
Manokwari, TopbNews.com – Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Papua Barat, Setian mengungkapkan bahwa acara Pesta Sinoli merupakan singkatan dari “Pekan Data dan Statistik: Sinergi Stabilitas Inflasi dan Akselerasi Industri”. Kegiatan ini menjadi transformasi dari agenda rutin tahunan Bank Indonesia berupa temu responden, dimana setiap tahun BI mengadakan kegiatan survei sebagai bagian dari upaya pengumpulan data yang relevan dengan kondisi ekonomi di Papua Barat.
“Pesta Sinoli ini akan menjadi agenda tahunan kami,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Papua Barat dalam sambutannya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala Perwakilan BI Papua Barat menekankan hal penting, yakni pentingnya data sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Pentingnya data inilah yang melatarbelakangi kami mengadakan Pesta Sinoli. Data menjadi kunci utama untuk menyusun kebijakan yang tepat, khususnya terkait pengendalian inflasi,” jelasnya.
Sebagai contoh, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi sebesar 0,31% pada bulan Agustus 2024. Namun, jika hanya mengandalkan data umum seperti ini, tim Pengendalian Inflasi Daerah (PPID) akan kesulitan menyusun kebijakan yang lebih spesifik. Data tambahan, seperti rincian lima komoditas utama penyumbang inflasi, sangat penting untuk mengarahkan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Ia mencontohkan harga tomat, yang pada Juni 2024 sempat mencapai Rp 60.000 per kilogram, namun turun drastis menjadi Rp 6.000 pada Agustus. Hal ini terjadi karena adanya panen yang bersamaan, yang menyebabkan pasokan melimpah dan harga menurun.
“Kalau saja kita memiliki data yang cukup tentang jumlah petani tomat, luas lahan tanam, dan potensi hasil panen, kita bisa membuat kebijakan untuk mengatur pola tanam agar tidak terjadi panen bersamaan,” tambahnya.
Melalui Pesta Sinoli, diharapkan kolaborasi antar pemangku kepentingan dapat diperkuat untuk meningkatkan kualitas data dan analisis statistik di Papua Barat, guna mendukung stabilitas inflasi dan akselerasi industri di wilayah tersebut.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Bank Indonesia dan instansi terkait untuk menyusun kebijakan yang lebih berbasis data dan menciptakan sinergi yang lebih baik dalam pengendalian inflasi. (*/KY)